Bondowoso| Berita-kompas.com – Bayangkan sebuah tempat pelayanan gizi yang setiap harinya menyajikan hidangan bergizi tinggi, tapi tak pernah terasa seperti "makanan kesehatan" biasa. Itulah yang terjadi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bondowoso - Taman Krocok. Di sini, menu istimewa bukan sekadar janji, melainkan rutinitas yang dinanti-nanti.
Kepala SPPG Taman Krocok, Burhanuddin Rabbani, S.E., dengan penuh semangat mengungkapkan rahasia di balik kesuksesan layanan mereka. "Kami ingin membuktikan bahwa makanan bergizi tinggi bisa tetap lezat, variatif, dan istimewa. Setiap hari adalah kesempatan untuk berkreasi, tanpa mengorbankan angka kecukupan gizi," ujarnya saat ditemui di kantornya, senin (04/5).
Menu Tak Pernah Monoton, Gizi Tetap Terjaga
Berbeda dengan kesan kaku pelayanan gizi pada umumnya, SPPG Taman Krocok justru menghadirkan konsep daily special. Mulai dari olahan ikan kembung kaya omega-3 dengan sentuhan rempah lokal, hingga tumis kangkung tahu tempe yang tinggi serat dan protein nabati. Bahkan, nasi yang digunakan adalah nasi merah organik yang dimasak dengan teknik slow cooking agar vitamin B1 tetap utuh.
"Anak-anak dan lansia yang menjadi penerima manfaat sering kali tidak sadar bahwa mereka sedang mengonsumsi makanan dengan kandungan gizi super. Mereka hanya bilang 'enak' dan 'beda setiap hari'," tambah Burhanuddin.
Sentuhan Manajemen Modern ala Sarjana Ekonomi
Latar belakang Burhanuddin sebagai Sarjana Ekonomi ternyata membawa angin segar dalam manajemen SPPG. Ia menerapkan sistem inventori bahan pangan lokal yang terdigitalisasi, sehingga ketersediaan sayur dan lauk dari petani sekitar selalu segar dan terukur. "Efisiensi biaya tidak pernah mengurangi porsi protein dan vitamin. Justru kami bisa membeli bahan lebih berkualitas karena rantai pasoknya pendek," jelasnya.
Tak heran, dalam tiga bulan terakhir, SPPG Taman Krocok mencatatkan zero waste pada menu utama. Setiap porsi dihabiskan oleh penerima manfaat, mulai dari balita, ibu hamil, hingga lansia.
Respon Positif Warga dan Target Ekspansi
Siti Aminah (45), salah satu warga desa Gentong, mengaku berat badan anaknya yang sempat kurang gizi kini mulai berisi. "Dulu saya pikir makanan sehat rasanya hambar. Setelah ikut program SPPG Taman Krocok, setiap hari saya penasaran menu istimewa apa lagi yang akan disajikan. Anak saya bahkan tidak pernah meninggalkan seporsi pun," ceritanya tersenyum.
Ke depan, Burhanuddin berencana membuka ruang edukasi agar keluarga penerima manfaat bisa meniru resep-resep istimewa tersebut di rumah. "Target kami bukan hanya kenyang sesaat, tapi perubahan pola makan berkelanjutan," pungkasnya.
Dengan inovasi menu dan manajemen yang rapi, SPPG Taman Krocok layak menjadi contoh bahwa pelayanan gizi tinggi bisa tampil istimewa setiap hari.
Editor : Bamz