Workshop Genetika Darah ABO di Surabaya, Guru Diajak Memahami Karakter dan Potensi Anak Sejak Dalam Kandungan

Reporter : Lambang K
Ket Foto : Workshop Genetika Darah ABO di Surabaya, Guru Diajak Memahami Karakter dan Potensi Anak Sejak Dalam Kandungan

Workshop Genetika Darah ABO di Surabaya, Guru Diajak Memahami Karakter dan Potensi Anak Sejak Dalam Kandungan

 

SURABAYA BERITA KOLPAS.COM – Pengurus dan Ketua K3 TK Kota Surabaya Ibu OENTARI Kartikahidajati M. Pd dgn komunitas Guru Pembelajar Indonesia mengadakan Sebuah workshop pendidikan dengan konsep unik dan menarik digelar di BG Junction Mall Surabaya, Jumat (29/5/2026).

Kegiatan bertajuk “Mengenal Karakter dan Potensi Anak dari Genetika Darah ABO” ini menghadirkan Direktur Golda Institute, Eva Dipanti Tumba, sebagai narasumber utama.

Workshop yang diinisiasi komunitas guru di Kota Surabaya bersama sejumlah pegiat pendidikan tersebut diikuti sekitar 90 peserta dari kalangan guru dan pemerhati pendidikan. 

Acara ini menjadi ruang diskusi baru bagi dunia pendidikan, khususnya dalam memahami karakter alami anak berdasarkan genetika dan golongan darah.

Dalam paparannya, Eva menjelaskan bahwa setiap golongan darah memiliki karakter dasar dan pola respons yang berbeda. 

Menurutnya, pemahaman tersebut penting dimiliki guru agar komunikasi dan metode pembelajaran terhadap siswa bisa lebih tepat.

“Setiap golongan darah punya respons yang berbeda. Ada anak yang tidak bisa diam, selalu ingin bergerak, ada yang tenang, ada yang harus diberi instruksi jelas terlebih dahulu. Kalau guru memahami karakter dasar ini, maka komunikasi dengan murid akan lebih nyambung,” ujar Eva di sela kegiatan.

Suasana workshop berlangsung interaktif. Para peserta bahkan dikelompokkan berdasarkan golongan darah masing-masing untuk melihat langsung perbedaan karakter dan cara mereka bekerja saat praktik berlangsung.

Eva menjelaskan, pemilik golongan darah O cenderung aktif dan cepat bergerak. Sementara golongan darah B dinilai lebih santai dan fokus bekerja sesuai ritmenya sendiri. Golongan darah A disebut memiliki karakter profesional dan menyukai instruksi yang jelas, sedangkan golongan darah AB cenderung cepat memahami pekerjaan selama dianggap masuk akal.

Menurut Eva, selama ini banyak guru mengalami kesulitan berkomunikasi dengan murid karena belum memahami karakter alami yang dimiliki setiap anak.

“Kadang guru merasa sudah menjelaskan dengan runtut, tapi muridnya tetap tidak nyambung. Ternyata ada faktor bawaan dalam diri anak yang selama ini tidak dipahami, salah satunya genetika,” katanya.

Meski demikian, Eva menegaskan bahwa golongan darah hanya memengaruhi sekitar lima persen terhadap pembentukan karakter anak. Faktor terbesar justru berasal dari lingkungan, terutama sejak anak masih berada dalam kandungan.

Ia menilai kondisi emosional ibu saat hamil sangat memengaruhi perkembangan psikologis dan karakter anak di masa depan.

“Anak dibentuk sejak dalam kandungan. Kalau ibunya sering sedih saat hamil, itu bisa terbawa pada karakter anak. Bahkan kebiasaan ibu seperti membaca atau menonton televisi juga bisa memengaruhi minat anak nantinya,” jelasnya.

Karena itu, Eva menekankan pentingnya edukasi pranikah dan persiapan kehamilan sebagai pondasi membangun generasi unggul menuju Indonesia Emas.

“Kalau ingin membangun generasi emas, itu harus dimulai sejak pranikah. Orang tua perlu memahami genetika dan kesiapan mental sebelum memiliki anak,” ungkapnya.

Workshop ini mendapat sambutan antusias dari para guru. Mereka menilai materi yang disampaikan membuka wawasan baru dalam memahami perilaku siswa di sekolah.

Kegiatan tersebut juga diharapkan dapat mendapat dukungan lebih luas dari pemerintah maupun institusi pendidikan agar bisa diterapkan dalam dunia pendidikan secara lebih masif.

Eva mengungkapkan bahwa program serupa sebenarnya telah ia jalankan sejak tahun 2012 dan sudah hadir di berbagai kota di Indonesia, termasuk Surabaya beberapa tahun lalu. Setelah kegiatan di Surabaya, ia dijadwalkan melanjutkan workshop ke Salatiga dan Semarang.

Menariknya, penerapan ilmu genetika darah ABO ini tidak hanya digunakan di dunia pendidikan, tetapi juga pernah diterapkan dalam bidang olahraga, termasuk membantu analisis performa pemain sepak bola nasional.

“Selama manusia masih punya darah, pendekatan ini bisa digunakan di berbagai bidang. Karena ini berkaitan dengan cara kerja otak, karakter, dan potensi seseorang,” tuturnya.

Melalui workshop tersebut, para peserta diharapkan mampu memahami bahwa setiap anak memiliki potensi dan pola belajar berbeda, sehingga membutuhkan pendekatan pendidikan yang lebih personal dan manusiawi.

 

*} Sumber : Bdwi dan dipublikasikan oleh Jack'supit 

 

Editor : Lambang K

Info Publik
Berita Populer
Berita Terbaru